
Ukhti…,
Setiap kali menatap wajahmu, kau tahu?! Aku seperti melihat rembulan yang bulat sempurna memancarkan cahaya bagi gelapnya malam yang pekat. Terlebih jilbab panjang yang menutupi rambutmu, semakin memancarkan aura islam yang begitu indah terpancar dalam dirimu.
Dan tak akan ada habis-habisnya kata – kata pujian yang terlontar padamu. Matamu yang sebening embun itupun selalu kau tundukkan agar tak tampak lintasan hati.
Sungguh, Ukhti, bukan untuk memuji jika kukatakan keterusterangan ini padamu, tapi lebih untuk meyakinkanmu, bahwa engkaulah satu dari sedikit cahaya yang diciptakan Allah untuk menerangi dunia yang penuh dusta dan kemaksiatan ini.
Tidakkah kau tersanjung, atas rasa cinta-Nya yang demikian besar padamu?!
Ukhti…,
Kau tahu?! Tidak semua wanita dilimpahi-Nya dengan hidayah dan kekuatan iman sepertimu. Allah adalah sahabat bagi mereka yang beriman. Dia membawa mereka dari kegelapan menuju cahaya. (QS. Al-Baqarah : 257)
Lihatlah, Ukhti. Lihatlah di sekitar kita saja, tak perlu kau layangkan pandang untuk melihat jauh ke Jakarta, dimana akan kau temukan artis-artis yang mempertontonkan aurat hanya untuk meraih kemegahan dunia. Ada juga wanita – wanita yang menjual diri hanya untuk selembar kesenangan sesaat. Naudzubillah min dzalik…
Sekali lagi, tak perlu melihat jauh-jauh, Ukhti. Ada beberapa gadis muda seusiamu yang rela membuka jilbab hanya untuk mendapatkan peran kecil dalam pementasan drama yang hanya ditonton oleh orang-orang sekampung.
“Barangkali sikap artis-artis itu bisa dimaklumi…” Ujar seorang teman dengan nada getir.
Tapi, semua itu tak pantas dimaklumi, bukan?! Tak bisa! Karena semua itu telah melanggar batas-batas yang syar’i. Bahwa selayaknya seorang wanita mempertahankan izzah mereka.
Engkau sependapat denganku, bukan?!
Kadangkala, aku ingin marah, Ukhti. Ingin sekali aku marah, karena mereka seperti mempermainkan akidah islam yang begitu mulia.
Dan Ukhti, cobalah selami hubungan kita selama ini. Terus terang, Ukhti, aku merasa sangat berdosa padamu, lebih-lebih pada Allah. Kita berpacaran, padahal kita sepenuhnya sadar, bahwa dalam Islam tak ada istilah pacaran. Aku rasa, engkapun telah mengerti hal itu dan tak perlu kujelaskan lagi, bukan?!
Maka, bukan untuk menyakiti hatimu, jika aku katakan; relakanlah aku menjadi Ikhwan! Sebab, sudah saatnya bagi kita untuk membersihkan hati kita dari cinta semu yang penuh virus dan semoga cinta tertinggi kita hanya untuk Allah, sebab hanya ialah yang patut dicintai.***