KEPING 2
DAUN – DAUN BERGUGURAN
Si Cina itu bernama Tary. Sangat tomboy dan perkasa. Kadang, aku tak senang padanya. Bukanya apa-apa, dalam banyak permainan, aku kalah dengannya. Wajah orientalnya yang cukup manis seolah hilang dalam sifat kelaki-lakiannya. Bahkan dalam permainan yang sangat laki-laki; main bola, ia tetap menjadi the winner!!!
Bagaimana aku tidak keki?!
Tapi, bagaimanapun, aku sayang padanya. Dia adalah sahabatku yang baik.
Dan hari ini, ibuku baru saja membelikan mainan yang bagus untukku. Sebuah mobil-mobilan merah dari plastik. Aku ingin Tary juga bisa bermain dengan mobil-mobilan baruku. Tapi, entah kemana ia raib.
Tahukah kalian? Tary itu adalah anak yatim piatu. Ia tinggal dengan neneknya. Aku lupa, ada berapa jumlah saudaranya. Karena, sejak ayah dan ibunya meninggal, Tary dan saudara-saudaranya hidup terpisah. Betapa memilukan. Tapi, jangan panggil namanya Tary jika dia sedih karenanya. Ketika ibunya meninggal, justru akulah yang menangis, sementara ia diam saja dengan muka keruh, seolah tak terjadi apa-apa.
Aku mencari Tary ke rumah neneknya, ke sungai, bahkan ke tanah lapang tempat kami main bola, tapi dia tidak ada di sana. Kemanakah engkau gerangan?
Akhirnya, setelah lelah mencari, aku pulang kembali ke rumahku. Lelah sekali rasanya mencari anak tomboy itu.
Dan... saat pulang itulah petir menyambar, hingga daun – daun berguguran. Kus dan Gun tak ada di rumah. Sementara ibu menyambutku dengan linangan air mata.
Ada apa?!
Dan seperti tahu isi hatiku, ibu memelukku dalam diam.
“Kemana saja kamu, nak?”
“Aku mencari Tary. Aku ingin bermain mobil-mobilan dengannya.”
Dalam pelukan ibu, aku merasakan kedamaian yang luar biasa. Juga kurasakan ada air yang semakin deras mengalir di kepalaku.
“Mengapa Bunda menangis?”
“Tary.... sahabatmu...”
Ada yang berdetak tak menentu. Firasatku membawaku pada sebuah keadaan yang tak menentu. Sesuatu telah terjadi... pada Tary...
Dan, aku seolah diporak – poranda oleh sebuah kekuatan jahat yang sangat bengis, ketika kudengar kabar itu. Tary diperkosa!!!
Aku tidak tahu, diperkosa itu dibagaimanakan, yang aku tahu, itu pasti sangat menyakitkan Tary.
Dia diperkosa oleh lelaki bejat yang sekampung dengan kami. Tary diiming-imingi duit seratus rupiah dan dibelikan tebu yang manis, sehingga dia mau diajak ke sawah. Untunglah, ada seorang petani yang melihat kejadian itu. Meskipun... Tary telah ternoda!!!
Wartawan dari kota datang meliput kejadian itu. Lelaki bejat itupun di penjara. Tapi... dimana Tary? Aku ingin mengiburnya... perduli setan dengan lelaki bejat itu.
***
Seorang gadis kecil, T (5 Tahun) diperkosa di persawahan oleh lelaki setengan baya dengan inisial A (30 Tahun).
***
Beberapa hari kemudian, Tary datang sekolah seperti biasa. Aku hampir menangis melihatnya berjalan terpincang-pincang. Kasihan dia... tapi, seolah tak mau dikasihani, ia terus melangkah.
“Aku bantu bawakan tas?” Ujarku.
Ia menatapku tajam, “Sana, bantuin pak Kadir!”
Dan aku tertawa. Ia ikut tertawa. Aku senang melihat ia bisa tertawa.
“Katanya, dia mau kita bolos hari ini!” godaku.
“Aku bosan bolos. Aku mau menjadi Guru, seperti bu Jainab.” Ujarnya.
Ibu Jainab. Dia mengajar mata pelajaran Agama di kelasku. Sikapnya sangat lembut. Aku menyukainya, karena ia begitu baik pada kami. Selain bu Jainab, masih ada beberapa guru di sekolahku. Ada Bu Nanik, Bu Nurmi, Pak Nurdin dan Pak Kadir. Yang terakhir sekaligus menjabat sebagai Kepala Sekolah yang cukup disegani.
Kupandangi lagi Tary, sahabatku. Sebenarnya, banyak sekali yang ingin kutanyakan padanya hari ini. Bagaimana rasanya diperkosa? Diperkosa itu diapain sih? Bagaimana kejadiannya? Dan yang lebih penting, dimana kau simpan tebu yang dikasih penjahat itu? Mengapa tak kau bagikan kepadaku?
Dan..., pertanyaan-pertanyaan itu menguap begitu saja. Sekalipun tetap ceria seperti biasanya, aku bisa merasakan kesedihan Tary. Sejak kecil, kami selalu bersama. Bermain bola, bolos sekolah, mandi di sungai, mengail ikan dan belut. Begitu banyak hari yang kami lewati bersama. Dan itu cukup membuatku mengerti sifatnya.
“Tary...”
Ia menghentikan langkahnya. Menoleh padaku.
“Apa... appp.... pa...”
Ia menggaruk rambutnya.
“Kau sakkkkittt?!”
Dan bel berdentang sebelum Tary menjawab pertanyaanku.
Kami berlari menuju kelas kami. Hari ini mata pelajaran Pendidikan Agama Islam. Mata pelajaran yang sangat kami sukai, karena kami akan bertemu dengan ibu Jainab yang baik hati dan lembut. Aku rasa, kata-katanya seperti salju. Bening dan menyejukkan.
Di mataku, bu Jainab adalah ibu sejati. Jilbab yang menutupi kepalanya seolah menambah pesonanya. Dia adalah satu – satunya ibu guru di sekolahku yang berjilbab. Umurnya mungkin sudah sekitar 40 tahunan. Entahlah.
Tapi, hari ini, wajah yang biasanya lembut dan menyejukkan itu berubah keruh. Berulang kali ditatapnya kami satu per satu, meskipun ia lebih sering menatap Tary yang menunduk dalam – dalam. Kelas kami menjadi mencekam. Tak ada satu orangpun yang bersuara.
Akupun merasakan sesuatu yang lain. Biasanya, setelah kami berdo’a, Bu Jainab akan menceritakan pada kami sejarah sahabat-sahabat nabi yang perkasa dan begitu mulia, atau kisah – kisah yang akan membuat kami seolah dibawa ke sebuah tempat asing dimana cahaya begitu menyala dan bersinar. Sinar itu kemudian bersembunyi di dalam hati dan jiwa kami. Tapi, hari ini, mata itu seolah menyimpan sebuah beban yang amat berat.
Aku mengerti.
Sungguh aku mengerti perasaannya. Ia adalah seorang ibu yang berhati lembut. Dan kami adalah anak-anaknya. Hari ini, seorang anaknya dimangsa harimau yang tak punya hati.
Ibu mana yang tak akan sedih?
Setelah lama menahan perasaannya, Bu Jainabpun menghampiri Tary. Dipeluknya Tary dengan erat seolah Tary adalah anaknya yang telah menghilang.
“Kamu baik-baik saja, nak?” suara bergetar ketika menanyakan itu.
Tary diam saja. Wajahnya ia sembunyikan di dada Bu Jainab.
“Ayah ibumu sudah tahu?!”
Hatiku teriris rasanya mendengar pertanyaan itu.
“Sudah tiada, Bu...” akulah yang menjawab.
Bu Jainab menatapku tak percaya. Aku mengangguk untuk meyakinkannya. Dan, seperti tak bisa ditahan, guru yang baik hati itu menangis sambil menggigit bibirnya. Ia seolah menyesali ketidaktahuannya akan kondisi murid-muridnya. Air matanya menetes dalam diam.
Kami larut dalam suasana duka yang dalam. Lebih – lebih ketika dengan polosnya Tary menceritakan kisahnya, dengan mata yang begitu tegar, seolah – olah ia hanya tersandung oleh batu kecil.
“Malam itu, dia mengajak saja membeli tebu, Bu. Kemudian dia merayu saya dan mengiming-imingi saya uang seratus rupiah. Nenek saya sedang sakit batuk, bu. Saat itu, saya berpikir uang seratus itu akan saya belikan bodrex untuk nenek... dan tak tahunya, ia membawa saya ke dangau di sawah, kemudian saya disuruh berbaring dan....”
Ia menceritakan dengan runut. Air mata bu Jainab semakin deras mengalir. Akupun meminta ijin ke kamar kecil. Di kamar kecil itu, aku menangis tersedu-sedu.
***
Itu adalah hari terakhir aku bertemu Tary. Akhirnya, Kakak tertuanya mengajaknya tinggal di Kota. Aku tak tahu kota apa itu. Yang aku tahu, kami tak akan lagi bertemu dengan Tary. Gadis tomboy yang tegar menghadapi hidup.
“Jangan takut, suatu hari nanti aku akan kembali ke sini. Dan kau harus membayar kekalahanmu padaku.” Ujarnya.
Terbanglah tinggi, Pipit kecil. Jangan biarkan harimau – harimau itu memangsamu sekali lagi.
Aku... aku sayang padamu, Tary....***
(Novel ini belum terbit lo. saya tunggu komentar kalian)