Kabut tebal yang pekat menyelimuti negeri Irak. Segala hitam yang mencekik menerobos setiap inci ruang dalam tubuh pongah yang kehilangan kemanusiaan. Kegelapan merayap menutupi segala tangis dan tebaran aroma darah yang anyir, membentuk sebuah siklus kematian yang dicatat dengan tinta merah oleh angin. Angin?! Ya! Angin senantiasa mengabarkan pada semesta tentang kehidupan. Tentang hujan, badai, air, api, tanah, cinta, benci, persaudaraan, luka, darah, jua tentang manusia-manusia yang telah bermetamorfosis menjadi boneka, bahkan anjing! Gadis kecil bermata purnama itu memandang langit yang penuh kabut. Bau mesiu begitu dahsyat menebar, menyebarkan nyeri. Menyebarkan tangis. “Selalu. Ya! Selalu ada manusia yang bosan menjadi manusia, sehingga memporak-porandakan kemanusiaan mereka. Kau tahu, anakku… hati mereka telah berubah menjadi batu, atau… entahlah! Mungkin hati mereka telah digerogoti oleh virus benci, iri, dan dengki yang menggumpal dalam aroma kepala, sehingga hati mereka terkelupas sedikit demi sedikit.” Perempuan ber-abaya lebar, Ummi gadis itu, berujar lirih sambil menghapus airmata yang menitik satu-satu di pipinya. Gadis kecil itu masih menatap kabut, sekabut dirinya. Ia tak tahu mengapa harus ada perang yang hanya membuat ia kehilangan teman-teman bermain. Yang membuat darah bening di setiap kelopak-kelopak batin menganak sungai. Yang membuat semesta jiwa tersedu mengobati luka yang nanah. Yang membuat segala harap dan mimpi-mimpi terpenggal bayangan hitam yang menerobos dalam tiap catatan sejarah. Dan… Abi?! Entah telah berapa puluh kali dicobanya untuk tidak menangis, tiap kali ingatannya berlayar pada lelaki langit itu. Lelaki yang dengan kasih yang dalam mengukir jiwa dan mendongengkan cerita-cerita abadi yang menemani mimpi-mimpi malamnya. Dan lelaki itu… telah syahid! Hari pertama ketika Kitty Hawk, F-14 dan F-18, Kapal perang Amerika menyerang Baghdad, ayah tercintanya yang mengabdikan diri sebagai prajurit sejati bagi Negeri Irak itu terkena rudal, sehingga tubuhnya berkeping-keping. Ia tak ingin percaya pada mata dan telingga, tapi ratusan bahkan ribuan berita dan airmata yang mengepung ruang diri membawanya pada suatu pemahaman tentang hakikat sebuah keikhlasan menerima takdir; Abi , ayah tercintanya itu, telah terbang ke syurga. Mewangikan tanah Irak dengan tebaran aroma kesturi. “Abiii….” Gadis kecil itu tersedu, masih dengan tatapan kabut. Ummi yang sedang melipat pakaian, menatap anaknya dengan tangis, kemudian memeluknya erat dengan kasih yang dalam. “Sudahlah…, tak ada yang perlu ditangisi. Isya Allah, Abi telah bahagia di jannah-Nya.” Ucapnya, sambil membelai kepala gadis kecilnya. “kau masih ingat apa yang selalu dikatakan Abi padamu, setiap kali ia berangkat menuju medan jihad?!” “Tegarlah seperti langit, Aleya… sebab engkau adalah matahari penerang bagi Irak di masa depan…,” Gadis kecil itu, Aleya, membingkai senyum di bibirnya. “Ya, Aleya… engkau adalah matahari…” * * * Pagi masih terlamapu muda. Tapi catatan kecemasan nampak jelas di mata-mata keruh. Kota Baghdad masih diselimuti kabut tebal yang mengepul memeluk langit, membuat mimpi-mimpi terpenggal ke jurang yang paling ngarai. “Aleya… ayo, anakku… kita harus segera berkemas.” Ummi mengguncang tubuh kecil Aleya. “Ada apa, Ummi?!” Aleya memandang tak mengerti. “Kau tahu, anakku?! Amerika telah meluluh lantakkan Rumah Najla Abbas di Rissalleh, juga Villa Sellim di Shirta Khamse yang merupakan gedung dan bengkel kendaraan militer pasukan Irak. Kita harus berkemas, anakku. Sebentar lagi pasti giliran kita…,” “Ummi…, Amerika itu jahat, ya ummi?!” Aleya bertanya dengan suara bergetar. Ummi memandang Aleya sekejab, kemudian kembali asyik dengan kesibukannya, memasukkan barang-barang yang bisa digunakan untuk memamah kehidupan, terutama sekali bahan makanan dan sedikit pakaian. “Ummi…,” “Mereka… mereka….” Ummi tersedu, “Mereka bukan manusia, anakku. Bukankah Abi pernah menceritakan tentang Dajjal?! Bush dan Blair itulah dajjal!!” “Apa salah kita, Ummi?! Mengapa kita harus menanggung derita ini? Mengapa mereka membunuh Abi?! mengapa mereka menebar angkara?! Mengapa kita yang jadi korban Ummi?! Mengapa kita?! Apa salah kita?!” Aleya tersedu. Ummi memeluknya dalam tangis. “Sudahlah anakku… ini cobaan buat kita. Percayalah…, Allah selalu bersama kita. La haula walla quwata illah billah.” “Ummi…” “Sudahlah anakku. Ayo kita pergi dari sini.” “Tapi… kita akan kemana?!” Ummi tersenyum miris, “ Abu Rahmat dan Abu Hidayat, paman-pamanmu, akan membantu kita, anakku. Mereka telah menemukan gua untuk tempat tinggal kita.” Ummi dan Aleya berpelukan. Penuh cinta. Cinta yang hancur pelan-pelan, ketika tiba-tiba nada-nada kepanikan dan ketakutan memenuhi langit Irak. Memenuhi segala ruang. Sayadiyeh dihantam bom. “Ummi…” “Aaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhh!!!!” Langit hitam. Ruang hitam. Diri hitam. Israil memeluk dengan tangis para Syuhada yang syahid di bumi, kemudian mengantarkannya bertemu Sang Kekasih terkasih. “Ummiiiiiiiiiiiiiiiiiiii...” Aleya merasakan sesuatu yang nyeri menusuk tubuhnya. Kemudian… sepi! Hanya sepi. * * * Pertama kali membuka matanya yang terasa berat, yang terlihat hanya putih. Putih. Putih yang keruh. Kemudian lamat-lamat ia seperti mendengar suara rintihan dan tangis yang nyeri. Wajah keruh, suara tangis keruh, rintih keruh. Segalanya keruh, keruh yang perih. Semesta perih menghantam segala sudut. Aleya menatap setiap inci ruangan. Berjuta orang; anak-anak, orang tua, melimpah ruah. Berjuta orang merintih terkena pecahan mortil, terkena ranjau dan bom. “Aku dimana?!” sebuah tanya menyelinap, membangkitkannya pada suatu kesadaran. Menyelipkan rasa takut dalam pori jantung. Seorang lelaki setengah baya menatapnya nanar. “Paman…, aku dimana?!” Aleya memandang lelaki itu, Abu Hidayat, dengan wajah keruh. “Anakku…, inilah Al-Mustansaniya Collage… tempat penampungan korban perang dari rakyat Irak.” Abu hidayat menjawab dengan suara serak. Aleya mencoba menggerakkkan tubuhnya. “Aukhhhhhhhhhhh…” jeritnya tertahan. Kesakitan menjalar ke jantungnya. “Ada apa dengan diriku, Paman?! Mengapa semua terasa sakit?!” Abu Hidayat menutup wajahnya. Ada setetes air yang menitik di pipinya. ‘Selama ini, menangis ku anggap hal yang tabu, karena aku laki-laki. Tapi kenapa kini aku ingin sekali menangis?!’, bisik hatinya, perih. Cepat, Aleya menyibak kain putih yang menutupi bagian bawah tubuhnya, dan tangisnya pecah ketika menatap tubuhnya yang tak lengkap lagi. Dua kakinya… dua kakinya yang selama ini dibanggakannya… terpotong, dengan baunya yang amis. Bahkan Aleya hampir terpekik, ketika tanpa sengaja wajahnya bersitata dengan kaca Al-Mustansaniya Collage yang memantulkan wajahnya yang rusak. “Allah…,” airmatanya menderas. “Bom itu… pecahan mortil itu…, tabahkanlah hatimu, anakku… tabahlah….” Airmata Aleya semakin deras. Semakin perih. * * * “Sungai Tirgis selalu memberikan ketenangan. Selalu menghadirkan kenangan. Paman…, disinilah kami; aku, Ummi dan Abi sering menghabiskan waktu. Sungai Tirgis yang damai, sedamai khayal penyair dari khayangan…” Abu Hidayat menatap sungai Tirgis dengan wajah kabut. Entahlah! Tadi, mati-matian ia memintakan ijin pada tenaga medis Al-Mustansaniya Collage untuk memenuhi keinginan Aleya melihat sungai Tirgis. Meski tak mengerti manfaatnya, tapi demi Aleya… apapun akan dilakukannya. “Paman…, aleya tahu. Pasti saat ini Abi dan Ummi sedang tersenyum karena bertemu dengan Allah di jannah-Nya.” “Ummi?! Darimana kamu tahu, bahwa Ummi-mu telah….” Aleya tersenyum. “Paman…, lihatlah sungai itu, paman. Ada matahari yang runtuh. Ya! Ada matahari , paman.” Abu Hidayat memandang pantulan matahari di kedalaman sungai Tigris. “Ya! Ada matahari…,” desisnya. “Paman, Abi pernah berkata bahwa Aleya… Aleya… adalah matahari, dan hari ini… matahari telah runtuh…” Aleya berkata terbata-bata. Tubuhnya melemah. “Aleya! Ada apa dengan dirimu Aleya?!” panik abu Hidayat. “Aku… a…kkku… tak kkkuuatt lagiiiiii, Paman…” Tubuh Aleya semakin lemah. “Aleya! Aleya! Aleya!” abu Hidayat berteriak panik. Tubuh kecil itu semakin lemah, seperti sehelai kapas yang terkena air. “Aleya!” Ia mengguncang-guncang tubuh kecil dalam dekapannya. Tapi, mata bening Aleya perlahan memejam, seperti sekuntum bunga yang layu terkulai. Dengan potongan senyum patah di bibirnya yang membiru. “Aleya! Kamu dengar paman, aleya!” Abu Hidayat berteriak serak, tapi tubuh kecil itu telah kaku, telah membisu bersama bisunya angin yang menampar segala darah dan airmata. Segala keluh. Butir-butir bening memenuhi matanya. Langit masih pagi, masih keruh, masih kabut, masih berdarah. “Selamat jalan, Aleya… selamat jalan anakku….” Ia mencium kening Aleya dalam tangis. Keperihan menjalar ke jantungnya. Ditatapnya sungai Tirgis. Matahari-matahari runtuh di langit Irak membentuk bayang-bayang keruh. Didekapnya tubuh kecil yang kaku itu menuju Al-Mustansaniya Collage. Sepanjang perjalanan, dilagukannya tembang-tembang lara. Illahi…, Andaikata air mata bisa mendekatkan aku padamu Akuingin terus menangis Dalam jihad di jalan-Mu Intanshurullaha yanshurkum wa yutsabbit aqdaamakum… Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolong dan meneguhkan kedudukanmu…*** Rato- Dorowila, 13 April 2003 www.akhidirman.multiply.com