Goresan Kecil Akhi Dirman Al-Amin

Blog EntrySEBAB KITA ADALAH SEPASANG BINTANGApr 19, '08 3:26 PM
for everyone
SEBAB KITA SEPASANG BINTANG



Namanya Muhammad Guntur 'Emzy Azzam'. Bagiku, dia bukan hanya seorang adik, tapi lebih dari itu; sahabat, teman curhat yang baik, kadangkala juga dia adalah guruku dalam mengarifi kehidupan. Mendewasakan kekerdilan jiwa yang kadang menghinggapi diri.
Beda usia kami hanya satu tahun, mungkin karena itulah ikatan batin antara kami menjadi begitu tak berjarak. Apalagi wajah kami yang begitu mirip yang bahkan paman kami sering salah mengenal kami. Kadang aku dipanggil 'Gun', kadang pula dia dipanggil 'Dirman'. Kami menikmati itu. Kadang, kami memakai baju yang sama agar sulit dibedakan. Konyol sekali bukan?!
Sejak kecil, ayah mendidik kami dengan gaya 'militer' yang keras. Jika kami bertengkar, maka dua buah pisau akan disodorkan pada kami.
"Ayo!!! Supaya kalian lebih puas, bunuhlah saudaramu!"
Di saat seperti itu, biasanya, akulah yang lebih dulu menangis. Ia hanya menunduk saja. Kejadian – kejadian masa kecil itu membuat kasih sayang di antara kami begitu melimpah.
Tak ada yang istimewah yang terjadi antara kami. Nyaris sama dengan saudara – saudara yang ada di pelosok dunia yang saling menyayangi. Yang membedakan, mungkin karena begitu akurnya, kami selalu berada dalam organisasi yang sama; Remaja Masjid, Tim Nasyid Al-Ikhwan, FLP, juga sebuah organisasi politik.
Sampai sebuah jarak terbentang di antara kami. Gun bekerja sebagai tenaga foto kopy di kampus UGM, sementara aku mengabdikan diri sebagai pengajar di sebuah SMA yang cukup terpencil di kotaku. Aku juga membina Olimpiade Komputer dan Teater. Semua pekerjaanku kulakukan dengan cinta, aku mencintai murid – muridku, pekerjaanku. Mungkin karena itulah, alhamdulillah, hampir setiap tahun murid – murid binaanku mengukir namanya sebagai juara Olimpiade, juga di lomba – lomba menulis dan membaca puisi dan cerpen.
Sampai suatu hari, seorang datang di rumah kami. Orang itu adalah guru di sebuah SMA yang cukup dekat dengan rumahku. Menawarkan gaji yang cukup menggiurkan, agar aku mau pindah kerja ke sekolah itu.
"Nanti akan ada bonus untukmu tiap bulan, juga uang transportasi." Ujarnya.
Sayangnya, aku tak tergiur sama sekali. Aku terlanjur cinta pada sekolahku yang sederhana, tapi memberiku cinta dan semangat yang luar biasa, memberiku inspirasi.
"Bagaimana?!"
Aku menggeleng kepala.
"Maaf. Tapi… saya mempunyai seorang adik, ia saat ini kerja di Yogya. Dia juga bisa Komputer. Bagaimana kalau dia saja?! insyaAllah dia lebih pintar dari saya." Ujarku meyakinkan.
"Besok saya bicarakan dengan kepala sekolah. Tapi… besok kamu ke sekolah dulu ya, sekalian bawa lamaran untuk adikmu."
Maka, malam itu, aku menulis surat lamaran itu untuk adikku. Kuceritakan itu pada Bunda. Bunda malah sangat mendukung.
"Kasihan adikku harus kerja di tanah orang."
Malam itu, kutelpon Gun. Menyuruhnya pulang. 
"Ini kesempatan bagus, dek. Siapa tahu di sana memang takdirmu. Pulang ya!"
Alhamdulillah, dengan sedikit 'maksa', Gun berhasil kuyakinkan.
Besoknya, aku ke SMA itu. Kepala sekolah itupun setuju, jika adikku saja yang kerja di SMA mereka.
"Dia pintar lo pak. Sejak SMA selalu juara pertama." Promosiku.
Hari itu, aku menjadi konsultan mereka masalah komputer. Akupun berusaha memperbaiki komputer mereka yang ternyata tidak bisa booting. Kuinstal ulang Windownya. Alhamdulillah berhasil.
"Sebenarnya, saya sangat berharap pak Dirman saja yang kerja di sini."
Lho?!
"Maaf pak…, saya betul – betul tidak bisa."
"Adiknya sudah pulang kan?"
"InsyaAllah dua hari lagi dia nyampe Bima."
Akhirnya, Gun pun nyampe Bima juga. Kemana – mana kami selalu bersama. Seperti hari – hari yang lalu. Yang paling menyenangkan, kami bisa tukaran baju .
Namun, janji Kepala Sekolah itu ternyata hanyalah janji belaka. Aku sedikit marah, ketika Gun menceritakan hal itu. Aku pandangi adikku itu dengan permintaan maaf yang sangat.
"Nggak apa – apa kok. Allah pasti akan menggantikannya dengan yang lebih baik." 
Amin…
Sejak itu, Gun hanya di rumah saja. 
"Biar nggak bosan, nulis saja. Enak lo jadi penulis." Aku berusaha mengomporinya. "Komputerku bisa kamu pakai." Tambahku.
"Malas…!" ujarnya sambil tertawa. "Nanti orang – orang pasti akan membandingkan tulisanku denganmu. Dan… aku pasti kalah telak!" tawanya semakin lebar.
Tapi tahukah anda? Beberapa hari kemudian, ada beberapa cerpen yang berhasil ditulisnya. Ditulisnya diam – diam di komputerku. Dan akhirnya dibukukan. Subhanallah. Allah berbicara padanya. Allah berbicara…!!!
Beberapa bulan berikutnya, sebuah instansi kembali menawariku gaji yang menggiurkan untuk menjadi operator komputer. Kembali kurekomendasikan Gun kepada mereka. Tapi, lagi – lagi, hanya dicuekin saja. Padahal mereka belum melihat seperti apa kemampuan Gun.
"Gini ternyata ya jadi bayang – bayang orang terkenal. Membosankan." Ujarnya, dalam canda.
"Suatu hari orang pasti akan melihat kamu, dek. Yang sabar…"
Akhirnya, ketika ada penerimaan CPNS daerah, aku dan Gun sama – sama mendaftar. Aku tidak terlalu berharap banyak, karena tes itu kuikuti untuk menyenangkan hati bunda saja. Tujuanku yang sebenarnya bukanlah PNS.
Sampai akhirnya, tanpa sengaja, di sebuah tempat fotocopy, kulihat banyak orang di sana. Ternyata, mereka sedang antri membeli hasil fotocopy pengumuman penerimaan CPNSD. Seorang ibu di sampingku berteriak girang,
"Alhamdulillah, sepupuku lolos. Ini nama dan nomornya. Alhamdulillah." Ia berteriak bangga, sedikit memecahkan kosentrasiku menelusuri nama – nama peserta yang lolos.
Dan….
"Alhamdulillah, tetanggaku juga lolos." Kali ini seorang bapak – bapak di belakangku yang berteriak.
Aku melempar senyum ke arahnya.
Sampai akhirnya kubaca nama itu. Muhammad Guntur! Subhanallah… syukur memenuhi rongga dadaku. Kutelpon Gun menanyakan kepastian nomor dan namanya. Tapi aku yakin banget itu nomor ujiannya.
Dan benar ternyata. Gun lolos!
Kutelpon orang – orang rumah. Bunda tak bisa berkata apa – apa kala kutelpon. Subahanallah wal hamdulillah…
Namun ada yang berubah sejak pengumuman itu. Orang – orang rumah dan tetangga – tetangga kami selalu meledekku.
"Nggak nyangka ya, ternyata Gun lebih pintar dari Dirman!"
Menyebalkan sekali!
Maka, tiap kali Gun mengunjungiku di kamarku, kupasang wajahku yang paling angker. I hate you! Sekalipun kukutuk diriku, ketika ia meningalkan kamarku dengan wajah kecewa.
Ya Rabb…, ada apa dengan hati ini?! 
Sampai suatu ketika, aku bertemu dengan seorang temanku di sebuah universitas.
"Dengar kabar Gun lolos PNS ya?!"
Aku pura – pura budek. Hehehe…
"Syukur ya Gun yang lolos. Dia kan belum punya pekerjaan. Kalau antum kan sudah. Allah memang maha adil ya."
Deg! 
Ada yang luruh di hatiku.
Ya Allah…, ini yang kucari!
Keakraban itu kembali terjalin di antara kami. Kami memakai koko yang berwarna sama untuk menghadiri sebuah acara. Di tengah jalan, kami berpapasan dengan seorang teman.
"Kabarnya salah seorang di antara antum berdua ada yang lolos PNS ya. Siapa?!"
Aku menunjuk Gun, Gun menunjuk aku. Mata kami bertemu. Dan kami tertawa.
Ya, tak ada yang menang di antara kami. Tak ada juga yang lebih pintar atau apa. Sebab kami adalah sepasang bintang yang memiliki cahaya sendiri.
Ya Allah, terima kasih untuk adik seperti ini…***
Kamarku, 18 April 2008. 07.37 Pm


wildflower81 wrote on Apr 27
gun..dia seorang yang sangat beruntung karena memiliki seorang saudara seperti akhi dirman...nice article akhi..cukup menginspirasi saya untuk lebih berempati pada sesama..
akhidirman wrote on Apr 28
sayapun merasa sangat beruntung memiliki adik seperti dia. saya banyak belajar darinya.
imazahra wrote on Apr 28
Kisah yang indah....!
*sangat2 manusia ya ternyata perasaan iri pada saudara itu* :-p
Comment deleted at the request of the thread owner.
akhidirman wrote on Apr 29
iya mbak ima. justru perasaan iri itulah yang membuat kami berpacu untuk menjadi lebih baik
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help