KARENA ENGKAU BEGITU BERHARGA (Surat Buat Idatya)
akhi dirman al-amin
Biarkan aku menjadi hembusan angin Menghantarkan jiwa dalam kalbu Biarkan aku menjadi cahaya Kan terangi jiwamu Menjelma kasih sayang, utuh! Sebab, aku sayang kamu, dear… ***
Masihkah kau ingat kisah ini, Cinta?! Jika kau sudah lupa, baiklah, biarlah aku saja yang menceritakan padamu, semoga bisa menjadi satu bintang terang yang menjadi petunjuk jalanmu. Saat itu, engkau mendaftar di sebuah Sekolah Menengah Atas idamanmu. Kebetulan, di sekolah itu juga aku mengabdikan diri. 28 Juli 2003, itu tanggalnya. Catatlah tanggal itu dalam memorimu, cantik. Karena itu adalah hari pertama kau memakai jilbab. Akulah yang membelikannya untukmu. “Bagaimana?!” kau memainkan matamu yang bulat indah. “Apanya?!” Engkau tersenyum manyun kala ku goda. Aku tahu, kau telah terlebih dahulu melambung karena begitu banyak yang bilang, kau cantik memakai jilbab, Idatya... Ya. Percayalah! Kau cantik memakai mahkota muslimah itu...!!!
Sudah ingatkah kau kisah selanjutnya, Cinta?! Ijinkan aku bercerita saja. Tak perlu kau potong! Setiba di sekolah itu, begitu banyak mata yang melirik ke arahmu. Bahkan anak kelas dua dan tigapun menyambutmu, seolah engkau adalah bidadari yang baru turun ke bumi. Aku?! Dadaku melambung, karena akulah Jaka Tarub yang berhasil meluluhkan hatimu untuk memakai jilbab. Aku tahu, begitu banyak yang iri melihat kemesraan kita. Berkali-kali, kau bergayut manja padaku. Setelah kau resmi diterima di sekolah itu, tak terhitung banyaknya surat merah jambu yang tertuju padamu. Yang kita baca bersama dengan tawa lebar. Tahukah kau, cintaku...?! Tidak semua wanita dilimpahi-Nya dengan hidayah dan kekuatan iman sepertimu. Allah adalah sahabat bagi mereka yang beriman. Dia membawa mereka dari kegelapan menuju cahaya. (QS. Al-Baqarah : 257) Lihatlah, Cinta. Lihatlah di sekitar kita saja, tak perlu kau layangkan pandang untuk melihat jauh ke Jakarta, dimana akan kau temukan artis-artis yang mempertontonkan aurat hanya untuk meraih kemegahan dunia. Ada juga wanita – wanita yang menjual diri hanya untuk selembar kesenangan sesaat. Naudzubillah min dzalik… Sekali lagi, tak perlu melihat jauh-jauh, Cinta. Ada beberapa gadis muda seusiamu yang rela membuka jilbab hanya untuk mendapatkan peran kecil dalam pementasan drama yang hanya ditonton oleh orang-orang sekampung. “Barangkali sikap artis-artis itu bisa dimaklumi…” Ujar seorang teman dengan nada getir. Tapi, semua itu tak pantas dimaklumi, bukan?! Tak bisa! Karena semua itu telah melanggar batas-batas yang syar’i. Bahwa selayaknya seorang wanita mempertahankan izzah mereka. Dan hari ini, Cinta, engkau menjelma bidadari dengan jilbab yang menghiasimu. Aku jadi ingat, ketika kakak kita, Kak Ratna pertama kali memakai jilbab. Kau ingat?! “Gimana dek? Banyak yang bilang, kakak nggak begitu cantik pakai jilbab.” Ujarnya. Aku memandangnya tak mengerti. “Lalu?!” “Nggak ngaruh sih buat kakak.” Kutangkap ada resah dalam suaranya. “Kak...” dia memandangku, seolah anak kecil yang minta permen. “Di mataku, Kak, kakak terlihat sangat cantik. Di mata Allah juga kakak jauh lebih cantik.” Sejak itu, jilbab kak Ratnapun makin lebar. Kau ingat bukan?! Akan banyak goda dan cobaan dek dengan jilbabmu. Hadapilah semuanya dengan hati penuh iman. Tersenyumlah kala cobaan itu datang, karena cobaan itu akan semakin membuatmu bidadari. * * *
Betul bukan kataku, Cinta?! Baru satu bulan kau memakai jilbab. Cobaan beratpun – tidak berat sebenarnya- menerpamu. Kau terpilih sebagai salah satu anggota Paskibraka. Tentu saja kau telah melewati seleksi yang ketat sebelumnya. Aku tak perlu terlalu khawatir tentang itu, karena hampir semua siswi yang ikut Paskibraka memakai jilbab, bahkan itu telah ditetapkan dalam Perda Bupati. Aku bangga padamu, dek. Namun apa yang kubayangkan ternyata sungguh berbeda dengan kenyataannya. Kalian, anak – anak paskibkara yang cewek disuruh untuk membuka jilbab pas perayaan kemerdekaan kita. Sungguh ironis! Di saat kita seharusnya merayakan hari kemerdekaan, kalian malah ditindas dengan aturan yang ngawur dan tak berdasar. Aku mencoba mencari dukungan, agar syarat membuka jilbab itu dibatalkan. Kuhubungi guru agamamu, Cinta. Tapi... “Gimana sih pak?! Kalo pake jilbab, mana indah?! Lagian, mana ada anak paskib yang make jilbab?! Membayangkan paskibraka yang memakai jilbab saja sudah bikin kepala saya mumet.” Aku tidak mengerti apa saja yang dipikirkan orang – orang itu, Cinta. Sungguh aku tak paham. Yang bisa kupahami Cuma satu; kalian harus tetap memaki jilbab! TITIK! Namun, cintaku, setiap orang yang kuminta dukungan tak ada yang sepaham denganku. Aku lelah. Aku resah. Aku ingin menangis saja rasanya. “Bagaimana, kak?!” Aku melihat matamu yang penuh harap. Aku tahu, kau tahu resahku. Dan..., aku melihat matamu yang bidadari. Cintaku semakin besar padamu. “Jika harus membuka jilbab, aku mundur saja dari Paskibraka kak!” Cinta..., engkau betul – betul bidadari berhati bening...
Kini, waktu terus bergerak, seolah panah yang dilepaskan dari busur. Jauh sudah kenangan itu tertinggal. Akhirnya, kau tak ikut dalam barisan Paskibraka itu. Teman – temanmu yang lainnya rela membuka jilbab dan mempertontonkan rambut mereka di hadapan umum. Beberapa anak cowok yang ikut upacara denganku, kau tahu dek, ramai membicarakan rambut anak – anak paskib itu dengan penuh guyonan. “Wah... ternyata si itu rambutnya kribo... hehehe...” “Rambut si itu juga ternyata...” Ah, cinta... sungguh aku bangga padamu saat itu. Saat engkau berani memilih. Bagaimana kabarmu sekarang, cinta?! Masihkah cahaya itu kau pahat di matamu?! Masihkan jiwamu bidadari?! Tolong, jaga semua itu, cinta. Tak perlu bertanya kenapa. Karena engkau begitu berharga...!!!***
Kamar Bujangan, 27 Maret 2008 Toek adikku tersayang; Idatya (Akhi Dirman Al-Amin, Ketum FLP NTB)
 | Whuaaaaaaaaa, panjang benerrrrrrrrrr, entar yak bacanya, hihihihi :-p
Just want to say: "Morniiiiiinnnnnnngggggggg Dirman!" :p |
 | hihihi... mbak ima ada - ada saja.
mas latief : moga kita semakin istiqomah ya... |
 | Cinta...! Semoga tetap istiqomah!... Amin
*Duh pusing juga bacanya... harus didekitin mata ke komputer. Mungkin layoutnya akhi...!* |
 | ya deh... ngalah! ane layout ulang ntar. makasih... |
| |