Goresan Kecil Akhi Dirman Al-Amin

Blog EntryMIMPI - MIMPI DAN KEAJAIBAN ITUJun 8, '08 12:52 PM
for everyone
“AKU INGIN MATIIIIIIIIIIIII….!!!”
Runtuh sudah semuanya. Pertahananku jebol. Teriakanku memecah langit. Kubanting pintu kamarku dengan amarah yang memuncak. Air mataku berderai – derai.
Sempat kulihat wajah bunda yang sendu. Air mata mengenang di mata dan pipinya. Tapi apa peduliku?! Sungguh, aku mencintaiku. Tapi untuk kali ini, aku terlanjur berdarah.
Terbayang pak Abdullah, guru Biologiku, yang menatapku penuh harap; “Dirman…, kau tahu nak? Apapun yang kau inginkan, bapak yakin kau bisa meraihnya. Bapak bangga padamu.”
“Saya hanya ingin seperti bapak; menjadi guru. Itu cukup pak.” Ucapku, selalu.
Ya. Sejak kecil, cita – cita untuk menjadi guru itu kupahat. Dalam tiap sujudku, hanya itu yang kuminta untuk masa depanku; Tuhan..., please kabulkan permintaaku nanti. Aku hanya ingin menjadi guru! Itu saja...
Terbayang olehku guru – guruku sewaktu SD; Bu Nanik, Bu Nurmi, Bu Jaenab, Pak Nurdin, pak Kadir (Kepala Sekolah). Mereka adalah guru cintaku yang pertama. Terutama Bu Jaenab. Ibarat mata air, dia adalah mata air cinta yang tak berhenti mengalirkan kesejukan. Memberi damai. Dia sangat mencintai murid-muridnya. Ia selalu membagikan senyum yang damai untuk kami, dalam segala cuaca. Hanya sekali kulihat mukanya keruh dan air matanya menetes tanpa kuasa tertahan; ketika salah seorang muridnya, teman kami, diperkosa oleh seorang lelaki yang tak berperi kemanusiaan.  
Sejak itu, kupahat impian itu dalam jiwaku; aku akan menjadi seorang guru yang penuh cinta. Yang membagikan ilmu dengan penuh kasih dan tulus kepada murid – muridku kelak.
Maka, setiap hari, aku belajar dengan keras. Dan percayakah anda, apapun yang kita lakukan, dengan perjuangan keras dan keyakinan yang menggebu, akan nyata kita petik hasilnya? Saya percaya pada itu. Kepercayaan yang tak sia – sia. Saya berhasil menamatkan SD saya dengan nilai yang gemilang! Bahkan saya berhasil mendaftar di SMP paling favorit di kecamatan saya.
Namun ternyata, cobaan tak berhenti di situ! Berbagai masalah baru menyerang tanpa permisi!
Berkali – kali, setiap ulangan tiba, tagihan BP3 dan tunggakkan – tunggakkan menghadangku. Kemiskinan menghambat langkahku. Kubayangkan saudara – saudaraku. Delapan orang! Baju yang kupakai untuk sekolah setiap hari adalah bekas dari kakak – kakakku. Itu adalah ‘warisan keluarga’ yang mau tidak mau harus kami pakai. 
Dan hamper setiap kali ulangan tiba, aku dipulangkan karena BP3 ku nunggak beberapa bulan. 
Tahu rasanya dipulangkan seperti itu?
Aku malu. Mukaku memerah dan hampir menangis. 
Sepanjang perjalanan pulang, kutundukkan kepalaku. Seandainya tas kubawa, sudah pasti aku tak akan menunjukkan diri di sekolah. Biarlah bolos. Aku tak sanggup menanggung malu.
Rasanya, mataku mulai memanas. Terbayang bunda yang berkerja mati-matian untuk menyekolahkan kami. Kadang, ia pingsan di pasar ikan ketika menjual daging untuk menyambung hidup kami. Pernah aku berpikir untuk berhenti sekolah saja, tapi dengan matanya, bunda selalu memberiku semangat baja agar aku bisa terus menatap masa depan.
Sesampai di rumah, Bunda sedang duduk di kursi ruang tamu. Menjahit pakaian seragam Gun, adikku, yang robek.
Ia terlihat heran melihat kedatanganku. Tapi, dari matanya, kasih tetap mengalir bening seolah mata air dari syurga.
Ya. Sebab itulah aku mencintainya, seperti aku mencintai syurga.
 Aku bersimpuh di kakinya, kemudian menangis tersedu – sedu.
“Kenapa?!”
“Saya dipulangkan, Bunda.”
Ia mencari jawaban di mataku.
“BP3, Bunda. Sebentar lagi ulangan. Kami harus melunasi tunggakan, atau tidak akan diijinkan untuk mengikuti ulangan catur wulan.”
Aku melihat matanya yang risau.
“Tolong, Bunda... aku malu pada teman – teman...”
Bola matanya berkejaran ke mana – mana. Aku melihat ada air yang siap menggalir. Mataku telah basah dari tadi. 
Jangan menangis, Bunda... aku tak sanggup!
“Bunda.... belum punya uang...”
Mataku semakin memanas. Terbayang guru BP yang galak, Fadli dan teman – temanku yang lain. Hanya beberapa anak yang dipulangkan tadi. Rata-rata, mereka berpakaian lusuh sepertiku. Seolah mengisyaratkan, bahwa orang miskin seperti kami tak pantas sekolah, apalagi di sekolah favorit. ES EM PE negeri satu – satunya di kota kami.
Beginilah akibatnya, jika orang miskin ngeyel sekolah. Dipulangkan dan dipermalukan di depan kelas, karena tak sanggup membayar iuran sekolah. Kadang, disuruh membersihkan WC sebagai hukuman.
Aku bosan dihina. aku tak ingin orang memandangku HANYA sebagai anak kampung miskin yang setiap bulan harus nunggak bayar BP3 dan SPP. Aku sempat down, bahkan aku tamat SMP dengan NEM yang sangat minim, meskipun aku diterima juga di SMA favorit di kotaku. Aku masih ingat, NEM-ku adalah yang paling rendah di sekolah itu.
AKU INGIN DIKENAL KARENA SESUATU YANG MEMANCAR DALAM DIRIKU!!!
Maka, aku ‘membalas’ penghinaan itu dengan belajar dengan giat. Tak sia – sia. Waktu SMA kelas satu, di saat teman – temanku HANYA berpikir untuk narsis habis – habisan untuk menggaet cewek idola di sekolah, aku malah jatuh cinta habis – habisan pada pelajaran Kimia dan sastra. Bahkan aku sempat membuat heboh kelasku, karena salah satu cerpenku berhasil menjuarai sebuah lomba menulis tingkat nasional!
Masih terbayang ketika salah salah satu puisiku dimuat di majalah Bobo, waktu aku SD. Bu Nurmi memberiku semangat yang luar biasa.
“Kamu... namamu siapa?!” ia bertanya dengan suara berat.
Aku menyebut namaku.
“Ibu telah membaca karyamu di majalah Bobo. Betul kan itu karyamu?!”
Aku mengangguk mantap.
“Kamu berbakat, nak. Kata-katamu bagus. Ibu suka puisimu yang berjudul Matahari. Ibu rasa, hanya anak SD yang cerdas yang mampu menulis puisi seperti itu.”
Puisi itu untuk Bunda dan semua guru di manapun, Bunda... 
“Kamu suka akting?! Bermain drama?!”
Ya. Sekolah kami akan mementaskan sebuah drama perjuangan. Dan... Ibu Nurmi yang sangat baik itu memilihku untuk menjadi pemeran utama. Menjadi bapak protokol; Soekarno yang gagah.
Teman – temanku menatapku iri.
“Kamu akan menjadi seniman besar, nak...”
Semangat – semangat itu membuatku merasa berarti. Bukan hanya di lomba membaca atau menulis puisi dan cerpen kucatat namaku sebagai juara, tapi juga di Olimpiade Matematika dan beberapa lomba Sains. Bahkan oleh kepala sekolahku, aku diberi tugas untuk juga membimbing adik – adik kelasku terutama di pelajaran Matematika, sebagai sisten guru.
Kulewati semua itu dengan cinta!
Juara kelas dan juga juara Umum kuraih dengan sempurna. Nilai – nilai fantastik terukir di raportku.
Tapi... HARI INI SEMUA BERAKHIR!!!
The Game is Over!
Mimpi – mimpi yang kubangun bertahun – tahun hancur berkeping – keping!
“Maaf nak... kami tak mampu!” ujar bunda, ketika aku meminta restu untuk kuliah. Dan semua berantakan tanpa sisa!
Aku tak ingin bertanya mengapa. Aku tahu jawabannya. Jawaban yang selalu memenjarakan kami dalam tempurung kelapa; ORANG MISKIN TAK PERLU SEKOLAH TINGGI – TINGGI!!!
Aku menangis. Menangis tanpa suara, di kamarku. Impian itu berakhir sudah. Apa gunanya aku hidup?! Kuatatap pisau dalam genggamanku. Bunuh diri?! Aduh... tak terbayang sakitnya. Nggak jadi ah... (hehehe). Aku ingin membuat orang tuaku menyesal tak menyekolahkanku. Kemudian, kuraih baygon bakar di sudut lemariku. Coba kumamah, kemudian kumuntahkan lagi. Nggak enak banget! Rasanya pahit banget, lebih enak juga makan pisang! Hehehe...
Sampai akhirnya, lampu berpijar di kepalaku. Aku punya sedikit tabungan beasiswaku, dan ada kakakku yang tinggal di Yogyakarta. Kutelpon kakakku, pagi itu juga dengan nekat aku berangkat menuju Yogyakarta. Bunda berurai air mata melepasku. 
Namun apa yang kubayangkan tak berjalan mulus. UMPTNku gagal total. Akupun mengambil diploma komputer di sebuah universitas swasta, meskipun aku drop di tengah jalan karena masalah biaya. Aku kembali ke Bima dengan patah arang!
Selesai sampai di situkah?!
Saya pikir, saat itu adalah akhir dari kehidupan saya. Tapi ternyata itulah awal dari keajaiban – keajaiban yang hendak Dia tunjukkan kepada saya.
Ia membawa langkah saya menuju Remaja Masjid Al-Amin, mengenal berbagai pribadi yang membuat saya terpaku. Ia mempertemukan saya dengan kakak terbaik yang saya miliki (alm) Abdul Syahid, yang meyakinkan saya bahwa menulis adalah dunia saya. Maka, debut pertama saya dimulai dengan lakon teater Aceh Itu, Sunyi Itu, Luka Itu. Selanjutnya, satu per satu, naskah – naskah drama mengalir tanpa henti. 
Pengalaman mengajari kita banyak hal. Saya belajar dari itu semua. Saya tak ingin menjadi pemimpi sepanjang hidup saya. Saya melihat cermin dalam diri saya. Menyelami apa yang saya ‘miliki’. Dan dengan lilahi ta’ala, saya mulai menulis. Terus menulis tanpa henti.
Apa yang saya dapatkan?!
Saya masih Dirman yang dulu, tapi dengan semangat yang berbeda. Saya percaya, bahwa apapun yang diberikan Allah pada saya, itulah yang terbaik buat saya. Kini, saya telah menulis beberapa buku, menjadi penyiar radio, wartawan, sutradara film indie, dan... GURU OLIMPIADE KOMPUTER di sekolah saya! Sesuatu yang luar biasa dan tak pernah saya mimpikan sebelumnya. Saat ini, saya sedang memahat impian untuk kuliah lagi di kampung kecil saya.
 Jika menengok kembali ke belakang, saya menjadi malu sendiri. Ia tahu yang terbaik untuk saya, maka mengapa harus bersedih hati?! Berbagai keajaiban akan menghampirimu dari berbagai sudut. Kau hanya butuh satu hal; percaya dan berkerja keraslah! Raih impianmu semampumu dan serahkan semuanya pada sang Maha.
Tuhan..., keajaiban apa lagi yang akan kau tunjukkan padaku esok hari?! ***
Kamarku, 8 Juli 2008. 11.56 Pm.



imazahra wrote on Jun 8
apapun yang diberikan Allah pada saya, itulah yang terbaik buat saya.
Aku membutuhkan bara ini sekarang Adinda, tlg doa'kan aku juga...
Kudoakan kamu juga segenap jiwaku :-)
imazahra wrote on Jun 8
Kini, saya telah menulis beberapa buku, menjadi penyiar radio, wartawan, sutradara film indie, dan... GURU OLIMPIADE KOMPUTER di sekolah saya!
Dek, dengan sederet prestasi yg sudah berhasil kamu raih spt ini, kenapa tidak melamar beasiswa S1 saja??? Ada banyak program beasiswa yg ditawarkan pemerintah utk calon mahasiswa berprestasi dan berkarya sptmu, Dek :-)
Ayo di-google informasinya, ayo semangat :-)
winasavitri wrote on Jun 8
Semangat akhi!..ada Alloh SWT, Sang Kekasih Sejati yang tak pernah mengecewakan hambaNya.
akhidirman wrote on Jun 9
saya do'akan mbak ima bis melewati semuanya. alhamdulillah saat ini saya tengah mendaftar di salah satu PT di daerah saya mbak. doakan mbak... makasih tuk semuanya
akhidirman wrote on Jun 9
makasih semangatnya mbak wina
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help