Sore itu, saya conek keM P saya dengan debaran yang tak menentu. Beberapa menit sebelumnya, saya disms seorang kenalan saya, bahwa pengumuman UNDANGAN MENULIS HELVY TIANA ROSA dengan teman LELAKI/PEREMPUAN YANG PALING ISNPIRATIF YANG MENGUBAH CARA PANDANGMU di www.klubhelvy.multiply.com sudah dipost.
Selain saya, teman - teman saya di FLP NTB ada sekitar 5 orang yang ikut; Abdul Naser, Fitri Aa, Dudy Ardiansyah (adik saya) dan Nadinsyah Putra.
Namun, keberuntungan belum berpihak pada kami. tak satupun naskah kami yang lolos. saya sempat sedih juga. lebih sedih lagi ketika melihat Nadin (Nadinsyah Putra), murid saya, melihat pengumuman itu dengan wajah yang murung.
"Tak perlu sedih." ujar saya. "kau adalah penulis yang hebat. suatu saat kau akan menjadi!"
"BUkan apa-apa. adek ingin ada yang membaca tulisan itu, selain adek dan mbak Helvy Tiana Rosa tentunya. adek menulis itu dengan perjuangan keras."
Anyway, akhirnya saya membaca tulisan itu. dengan perasaan yang luar biasa... dia menulis tentang saya. suatu kehormatan buat saya. inilah tulisannya...
LELAKI YANG MEMELIHARA SENYUM
Nadinsyah Putra
Aku mengenal lelaki itu sejak lama! Perkenalan yang singkat, tapi begitu melekat dalam ingatan.
Saat itu, aku kelas II SMP. Aku telah terlebih dulu mengenalnya di beberapa media massa lokal maupun ibu kota. Dan setiap saat, aku menyimpan kekaguman padanya. aku ingin bertemu dengannya. Hanya bertemu.
Kakak saya, Sri Handayani, hampir setiap hari menceritakan tentang aktifitasnya bersama lelaki itu. Karena ia membina ribuan siswanya berteater dan menulis. Ia memang pembina OSIS bagian kesenian di sekolahnya. Bukan hanya kakak saya, tapi juga kakak – kakak sepupu saya; kak Ningsih dan Kak Nita.
Saat itu, aku membayangkan dia sebagai seorang guru yang peduli.
Itu aku buktikan sendiri dalam beberapa pertemuan kami di berbagai seminar. Ia selalu mengantar murid – muridnya. Ia terlihat tak berjarak dengan mereka, sekalipun itu tak akan mengurangi wibawanya. Ia pasti tak tahu, aku selalu memperhatikannya. Rasanya, ingin aku menghampirinya dan berkata; “Pak... saya Nadin... boleh kenalan?!”
Wackhhhhhhh!!! Sangat sulit bagi saya melakukan itu. Saya hanya bisa berharap cepat lulus dari SMP dan melanjutnya sekolah di SMA tempat dia mengajar. Saya begitu terobsensi untuk belajar banyak darinya.
Ketika FLP NTB, organisasi yang dipimpinnya mengadakan acara peluncuran buku dan alhamdulillah aku diutus oleh sekolahku untuk menghadiri acara itu, aku bisa lebih banyak mengenalnya.
Ia tak segan – segan menjadi ‘inem pelayan seksi’ (hehehe...) di acara itu. Ia menjadi seksi sibuk sekalipun ia tetap memelihara senyum itu. Senyum yang tulus.
Kemudian... waktupun berganti tanpa kenal lelah. Berputar.
Akupun tamat SMP dengan nilai yang cukup bagus dan aku mendaftar di SMAN 1 Madapangga, tempatnya mengabdi.
Hari – hari pertama mengikuti MOSBA (Masa Orientasi Siswa Baru). Ia menyapaku. Bukan hanya aku sebenarnya, tapi semua murid baru yang ditemuinya. Ia tidak akan segan – segan menyapa siapa saja yang ditemuinya. Seolah teman yang telah bertahun – tahun merajut persahabatan.
Sampai – sampai, kudengar seorang temanku berkata dengan suara yang cukup keras; “Pak, bapak betul – betul guru yang bersahabat dan keren!”
Ia tampak malu kala itu.
Sampai akhirnya, ia mengumumkan seleksi siswa yang akan mengikuti Olimpiade Komputer di sekolah kami. Dan ia akan membina anak – anak Olimpiade untuk berlaga di tingkat kabupaten bahkan propinsi. Akupun mendaftar. Selain aku, ada juga Nely, Dani, Faisal, Ryan, Desi, Julfa, Fery dan Anas.
Ia membuat kami terlihat istimewa dalam kelas khusus itu. Ia mengajarkan kami bukan hanya materi olimpiade, tapi juga cinta dan ketulusan.
Kamipun semakin akrab. Aku semakin mengenalnya sebagai guru yang care pada murid – muridnya. Ia membuat kami berarti. Ia selalu menyediakan kejutan – kejutan kecil untuk memotifasi kami. Ia memberikan doorprize berupa novel – novelnya untuk siswa yang paling cepat mengerjakan tugas yang diberikannya.
Ia juga memberikan joke – joke kecil ketika kami suntuk belajar.
Namun dia terlihat begitu marah, ketika seorang temanku kedapatan menonton CD porno.
“Apa yang kalian dapat setelah menontonnya?!” ia memandang kami semua yang terdiam, “Nggak ada kan?! Yang ada paling hanya pikiran picik kalian untuk melakukan sesuatu yang buruk!”
Aku meng-smsnya. Meminta maaf untuk teman – temanku.
“Bukan padaku kalian harus minta maaf. Tak perlu. Kalian nonton atau nggak, tak akan ada artinya buatku. Tapi berjanjilah untuk tak melakukannya lagi. Demi diri kalian sendiri. Demi masa depan kalian...”
Saat itu, aku berjanji pada diriku sendiri untuk tak berniat menonton CD seperti itu. Betul katanya, itu sama sekali tak berguna.
Iapun tak akan segan – segan ke rumah kami, muridnya. Hanya sekedar mampir dan menanyakan kabar bahkan. Pernah aku jalan – jalan dengannya pake motor. Sepanjang jalan, orang – orang menyapanya seperti artis terkenal. Kemanapun kami pergi.
Kutanyakan itu padanya. Ia bahkan menjawab bahwa ia sendiripun bingung.
“Apa abang mengenal mereka?”
“Sebagian ya. Sebagian lagi nggak.”
Begitulah.
Satu hal lagi yang kutahu tentangnya, ia sangat menyukai lagu Sempurna milik Andra and The Black Bone. Setiap kali aku diboncengnya, ia selalu bernyanyi dengan suara lirih.
Kau adalah hidupku
Lengkapi diriku
Oh sayangku kau begitu... sempurna!
Apakah ia begitu sempurna?!
Tidak! Dan aku tidak kecewa karena itu. Dan itu tak akan mengubah rasa hormatku padanya.
Satu hal lagi yang kusuka darinya, setiap kali melakukan kesalahan, sekecil apapun itu, ia selalu meminta maaf pada kami. Mengajarkan kami ketulusan.
Ah. Lelaki yang selalu memelihara senyum itu... ia membuatku terinspirasi sekali untuk menebarkan kebaikan. Menjadi lebih baik dari hari ke hari.
Suatu kali, kusms dia; A.... jika suatu hari adek telah menjadi orang, orang pertama yang adek ingat adalah A, kakakku...!!!
Kuceritakan padanya, bahwa dulu, waktu kelas III SMP, aku selalu memiskol nomornya. Nomor yang kudapat dari Kak Yani, kakaku. Tapi aku tak pernah berani mengsmsnya. Padahal banyak sekali yang ingin kutanyakan padanya. Ia hanya tersenyum dan menjewer telingaku.
Ya. Kami menganggapnya bukan hanya sebagai seorang guru, tapi juga kakak dan sahabat. Julfa, temanku, sampai menangis ketika kami mendengar kabar, bahwa ia akan pindah kerja. Akupun mengsmsnya berkali – kali. Untunglah ia tak jadi pindah. Hehehe...
“Suatu saat... aku akan menulis novel untuk kalian...” katanya suatu hari.
Kubuka novel pemberiannya. Akhi Dirman Al-Amin. Namanya dicetak dengan warna putih. Seputih sms motivasi yang selalu dikirimnya untuk kami. Sms itu sering koforwad ke teman – temanku.
Pak... Aa... Abangku, selalulah menebarkan senyum yang damai itu... ***
PENULIS
NADINSYAH PUTRA lahir sebagai anak bungsu dari pasangan H. Sulaiman dan Sarafiah di Dena, 11 Pebruari 1992. tinggal di alamat Rt.01 Rw.01 Desa Dena Kec. Madapangga Kab. Bima.
Ketua kelas X – 3 SMAN 1 Madapangga ini pernah beberapa kali meraih penghargaan di bidang Paskibraka, Olimpiade Komputer dan Cerdas Cermat. Ia juga aktif di FLP NTB dan juga Pengurus OSIS.