PEMAHAT ABAD
Kepada: Alm. Munir (Jalani titikmu tenang dan damai...)
Aku tahu, Ketika kau pahat perahu itu Kau paku dengan jiwamu yang paling tulus Tangan dan kakimu kau jadikan dayung Kulitmu kau jahit sebagai layar Saat itu telah kau tulis barisan kata Di jiwa dan batinmu : Akan derasnya badai yang menghadangmu
Akupun tahu, Ketika badai itu menelan jiwamu Mengoyak layar yang kau jahit dengan darah dan airmata Bibirmu senandungkan asa, bukan tangis Sebab perahu yang kau pahat Terus melaju menuju muara Dimana pohon azasi tegak menjulang
Tapi engkau tak mungkin tahu, Kukemas airmata ketika melihat wajahmu membias di televisi Kemudian kukupas kulit tubuhku Untuk mengganti layarmu yang koyak
Selamat jalan, Kawan...
Rato, 23 November 2004
| |
|