Jika berusaha menengok lagi ke belakang, masa ketika saya memakai seragam putih merah, putih biru dan putih abu, kenangan yang begitu cepat terpampang adalah tentang guru – guru saya
.
Saya masih terbayang lembutnya Bu Jainal, guru Agama saya waktu SD. Dalam tiap tutur katanya, salju seolah mengalir tak terbendung. Ia sangat mencintai murid – muridnya, maka kamipun mencintainya tanpa batas.
Saat ini, saya tengah menulis sebuah buku true story tentang kenangan kecil dan juga tentang guru – guru saya. Mengingat mereka, saya seolah mengingat masa terindah dalam hidup saya.
Saya juga jadi terkenang Bu Nurmi, juga guru saya di SDN 1 Sila. Seorang guru yang berdedikasi tinggi dalam menebarkan ilmu pengetahuan. Seorang guru yang tanpa pamrin memberi kami apa yang bisa ia beri. Sampai suatu hari, guru yang pertama kali mengajarkan saya berakting itu, pun menutup mata. Meninggalkan sebaid cerita tentang cinta yang tak mampu kami balas.
Saya juga jadi teringat pada pak Mahmud, guru Bahasa dan Sastra Indonesia saya waktu SMA. Ialah orang pertama yang meyakinkan saya, bahwa saya mempunyai ‘sesuatu’ yang harus terus saya asah, kemampuan mengarang yang cukup bagus.
Mengingat mereka adalah membaca kembali tentang cinta. Ya, tentang sebuah buku tentang cinta.
Dan kini, waktu seolah bergerak terbalik. Sekarang, aku adalah seorang guru. Alhamdulillah, kini aku mengabdi di sebuah sekolah negeri. Pekerjaan yang sangat aku cintai.
Menebarkan cinta. Berbagi senyum.
Kenalkan, ini adalah 2 di antara sekian banyak murid – muridku. Namanya Nadit dan Ryan. Mereka adalah binaanku dalam tim Olimpiade Komputer. Masih banyak nama lain sebenarnya; Dhani, Nely, Desi, Julfa, Faisal, Anas dan Feri.
Mereka menyayangiku. Maka, akupun menyayangi mereka. Aku tak menganggap mereka sebagai murid – murid yang tak tahu apa – apa, karena siapakah seorang Dirman?! Kami saling berbagi. Kadang, merekalah yang menjadi guruku.
“Pak, sudah sholat belum?!”
Kadang, sms singkat seperti itu mampir ke hpku, jika waktu sholat telah tiba. Mereka sangat paham, bahwa kadang aku lupa waktu jika telah berkerja.
Sungguh!!! Mereka muridku, sahabatku, adikku, sekaligus guruku. Saya sangat menyayangi mereka...Jika berusaha menengok lagi ke belakang, masa ketika saya memakai seragam putih merah, putih biru dan putih abu, kenangan yang begitu cepat terpampang adalah tentang guru – guru saya.
Saya masih terbayang lembutnya Bu Jainal, guru Agama saya waktu SD. Dalam tiap tutur katanya, salju seolah mengalir tak terbendung. Ia sangat mencintai murid – muridnya, maka kamipun mencintainya tanpa batas.
Saat ini, saya tengah menulis sebuah buku true story tentang kenangan kecil dan juga tentang guru – guru saya. Mengingat mereka, saya seolah mengingat masa terindah dalam hidup saya.
Saya juga jadi terkenang Bu Nurmi, juga guru saya di SDN 1 Sila. Seorang guru yang berdedikasi tinggi dalam menebarkan ilmu pengetahuan. Seorang guru yang tanpa pamrin memberi kami apa yang bisa ia beri. Sampai suatu hari, guru yang pertama kali mengajarkan saya berakting itu, pun menutup mata. Meninggalkan sebaid cerita tentang cinta yang tak mampu kami balas.
Saya juga jadi teringat pada pak Mahmud, guru Bahasa dan Sastra Indonesia saya waktu SMA. Ialah orang pertama yang meyakinkan saya, bahwa saya mempunyai ‘sesuatu’ yang harus terus saya asah, kemampuan mengarang yang cukup bagus.
Mengingat mereka adalah membaca kembali tentang cinta. Ya, tentang sebuah buku tentang cinta.
Dan kini, waktu seolah bergerak terbalik. Sekarang, aku adalah seorang guru. Alhamdulillah, kini aku mengabdi di sebuah sekolah negeri. Pekerjaan yang sangat aku cintai.
Menebarkan cinta. Berbagi senyum.
Kenalkan, ini adalah 2 di antara sekian banyak murid – muridku. Namanya Nadit dan Ryan. Mereka adalah binaanku dalam tim Olimpiade Komputer. Masih banyak nama lain sebenarnya; Dhani, Nely, Desi, Julfa, Faisal, Anas dan Feri.
Mereka menyayangiku. Maka, akupun menyayangi mereka. Aku tak menganggap mereka sebagai murid – murid yang tak tahu apa – apa, karena siapakah seorang Dirman?! Kami saling berbagi. Kadang, merekalah yang menjadi guruku.
“Pak, sudah sholat belum?!”
Kadang, sms singkat seperti itu mampir ke hpku, jika waktu sholat telah tiba. Mereka sangat paham, bahwa kadang aku lupa waktu jika telah berkerja.
Sungguh!!! Mereka muridku, sahabatku, adikku, sekaligus guruku. Saya sangat menyayangi mereka... (Adym)