Goresan Kecil Akhi Dirman Al-Amin

Blog EntryHELVY ITU CINTAApr 2, '08 4:13 AM
for everyone
Matahari tak pernah berjanji
Untuk menyapa pagimu
Dan meninggalkan kau dalam suram senja
Hanya abdi tulus
Tanpa harap setitik balas
Sebab matahari tak pernah ingkar
Akan suci takdir
(Janji Matahari – Akhi Dirman Al-Amin)

***
Apakah yang paling saya ingat tentang Helvy?!
Dulu, ketika pertama kali ‘berkenalan’ dengan Annida, membaca tulisan – tulisannya adalah sebuah energi tersendiri bagi saya. Saya seolah musafir yang menemukan oase di tengah padang tandus.
Karena itulah, saya selalu ‘memburu’ buku-bukunya dan membayangkan, bahwa suatu saat, sayapun akan bisa menulis sebagus itu, sebagai jalan dakwah saya.
Dialah inspirasi pertama dan terbesar yang menggerakkan tangan saya untuk menulis hari – hari saya dalam lembaran koran dan majalah.
Pada tahun 2000-an, kala Ketika Mas Gagah Pergi (KMGP) diterbitkan ulang oleh Asy Syaamil, saya adalah salah seorang yang mencari buku itu dengan perjuangan ekstra. Maklum, saya tinggal di sebuah kota terpencil. Untuk mendapatkan buku yang kita inginkan jangan ditanya susahnya.
Tapi, alhamdulillah, saya akhirnya menemukan ‘Mas Gagah’ di sebuah toko buku kecil di Kota Bima, setelah saya menempuh perjalanan 1 jam dengan bus dan harus naik bemo sekitar 10 menit. Saya memang orang yang sedikit ‘gila baca’.
Saya merasa sedikit aneh berada dalam toko kecil itu. Seorang perempuan berjilbab lebar adalah pelayan tokonya, dengan suara yang berat dan berwibawa. Ia tak pernah memandang saya, padahal –saya pikir saat itu- saya cukup enak untuk dipandang. Ganteng pula! (^_^).
“Maaf mas. KMGP belum ada. insyaAllah beberapa pekan ke depan baru ada. Sudah kami pesan di distributornya.”
“Boleh minta nomor telepon? Biar sewaktu-waktu saya hubungi ke sini untuk menanyakan kepastiannya.”
Ia memberikan saya nomor telepon.
“Jika KMGP sudah datang, akan kami simpan satu untuk mas.”
Sejak hari itu, dua kali dalam sebulan, saya selalu mengunjungi toko itu, toko yang mengenalkan saya pada Annida dan buku-buku islam yang menyentuh. Meski saya belum begitu paham juga, mengapa wanita itu tak pernah sedikitpun memandang saya? Mengapa pula, ketika saya pamit dan hendak menjabat tangannya ia hanya berujar lirih, ‘maaf’, sambil menyatukan tangannya di dada seperti orang Sunda?
Pertanyaan – pertanyaan itu terjawab sudah, ketika KMGP akhirnya saya dapatkan juga. Yang saya baca dengan hati yang gerimis dan basah. Buku itu benar-benar luar biasa bagi saya. Membuat saya merenung sepanjang malam tentang kehidupan saya selama ini. Saat itu, umur saya hampir 18 tahun. Apa yang saya lakukan selama delapan belas tahun?! Apakah saya sudah siap menjemput kematian saya, seandainya Dia tiba – tiba memanggil saya?
Tahukah anda apa yang saya lakukan sesudah membaca buku yang sangat inspiratif itu?!
Saya ‘berusaha’ mengikuti jejak mas Gagah. Di depan kamar saya, saya pasang stiker bikinan saya sendiri yang berbunyi ‘Dilarang masuk, sebelum mengucapkan salam’. Mas Gagah banget kan?! Meskipun saya tambahkan tulisan kecil di bawahnya dengan ukuran 12 pt Trebuchet MS; ‘dirman ganteng’ .
Membaca buku itu, membangkitkan ghirah saya untuk menjadi lebih baik dari hari ke hari. Adik – adik sayapun saya ‘paksa’ untuk membaca buku itu. Alhamdulillah merekapun menangkap ibroh buku itu. Buku itu entah berapa puluh kali berpindah tangan, dipinjam oleh teman – teman saya. Sampai akhirnya buku itu hilang tak tentu rimba di tangan seorang peminjam. Mas Gagah menghilang di rak buku saya, tapi kenangan tentangnya membekas begitu kuat dalam hati saya.
Sejak itu pula, saya mulai menulis. Jika sebelumnya, saya punya ratusan koleksi puisi cinta picisan, membaca buku itu membuat saya ingin menulis hal – hal yang lebih berguna. Maka sayapun menulis. Terus menulis tanpa kenal lelah. Orang – orang Annida, saya rasa, pasti sangat bosan menerima kiriman cerpen dan puisi yang saya ketik dengan susah payah dengan mesin ketik tua milik paman saya. Jari-jariku sampai kebal karena seringnya ‘bertarung’ dengan tuts mesin tua itu untuk menghasilkan karya. Saking bosannya (atau kasihan, hehehe) akhirnya, tulisan pertama saya dimuat di Annida, Epik Di Bawah Redup Rembulan Merah. Selanjutnya berbagai karya lain mengalir seperti air. Bukan hanya di Annida, tapi juga Sabilli, Al-Izzah, Deep Smile File (sudah tidak terbit), bahkan Horison!!!
Sampai kemudian, karena begitu mencintai dunia menulis, saya berkeinginan membangun jaringan Lingkar Pena di kota saya. Dengan perjuangan yang lumayan melelahkan, berkat bantuan Mbak Helvy, keinginan itupun terwujud.
Tahun 2005, FLP mengadakan Musyawarah Nasional (Munas) I. Saya menyiapkan diri untuk mengikuti acara itu, agar saya lebih mengetahui ‘luar dalamnya’ FLP.

Apakah yang paling saya ingat tentang Helvy?!
Alhamdulillah, saat menjelang Munas, buku pertama saya yang berupa Kumpulan Cerpen Negeri Airmata terbit. Mbak Helvy mengsms saya saat itu ‘Semoga buku ini menjadi langkah awal lahirnya buku-buku bermutu lainnya di masa mendatang’. Kata – kata yang memberikan inspirasi dan motifasi saya dalam berkarya. Kata itupun dicetak di buku perdana saya.
Akhirnya, tiba juga saya di acara Munas; Yogyakarta. Karena kurang biaya, saya melalui perjalanan darat yang lumayan melelahkan. Tapi, membayangkan bahwa saya akan bertemu seorang Helvy Tiana Rosa dan juga penulis – penulis lainnya, membuat semangat saya seolah jerami bertemu api.
Sekalipun cukup lelah, begitu sampai di ruang Munas, saking semangatnya, saya tidak mau istirahat. Rasanya rugi tidak mengikuti semua kegiatan dengan baik. Sayapun berakraban dengan teman – teman baru saya; Agus Makasar, Furqon Solo dan beberapa teman dari Samarinda.
Sampai akhirnya, dia ada di belakang saya. Seperti seorang artis dalam jumpa fans dengan penggemarnya yang saya tonton di televisi. Memberikan surprise. Helvy Tiana Rosa. Ia menghampiri saya, membawakan saya makanan kecil dan juga segelas air minum.
Itu adalah pertama kali saya bertemu dengannya. Dan ia telah mengajarkan pelajar pertama untuk saya; Dirman..., jika kau telah ‘besar’, janganlah tinggi hati. Tetaplah mencintai dan rendah hati pada orang – orang sekitarmu. Hehehe...
Saya seolah dihipnotis.
“Saya bawakan mbak buku saya. Ada di tas saya, saya ambilkan sekarang?!” Ujar saya semangat, seperti anak TK yang ingin menunjukkan pada gurunya sebuah gambar cakar ayam yang baru dihasilkannya.
“Nggak usah, dek. Nanti saja. Jika kamu lelah, istirahat saja dulu.”
Itulah perjumpaan pertama saya dengannya. Membekas dan tak lekang dalam ingatan.

Apakah yang paling saya ingat tentang Helvy?!
Detik- detik menjelang Munas berakhir, ia memberikan saya dua buah bukunya. Untuk adikku Dirman; menulis adalah berjuang..., tulisnya di halaman buku itu.
“Ingat. Hati – hati dengan penumpang bus. Jangan terlalu percaya pada orang yang baru kamu kenal dalam bus. Bunda pernah dihipnotis sampai barang – barang Bunda banyak yang hilang. Kamu yang hati – hati ya.” Pesannya.
Itulah Helvy!
“Kamu masih punya ongkos pulang, bukan?!” tanyanya.
“InsyaAllah cukup, mbak.”
“Mbak tambahkan sedikit ya...”
Ia menyelipkan uang itu di buku saya, yang saya terima.... dengan senang hati. Hahaha... (malu!)
Sejak itu, saya bukan hanya belajar untuk menulis dengan baik, tapi juga untuk menjadi pribadi yang lebih baik, yang lebih cinta.
Tahun 2006, mbak HTR-lah yang repot-repot mengsms saya. Memberikan dorongan agar saya mau mengikuti seleksi untuk mengikuti MASTERA (Majelis sastra Asia Tengara). Sampai akhirnya, alhamdulillah, saya diutus untuk mengikuti Mastera; Novel, mewakili Indonesia. Sebuah pengalaman luar biasa dalam karier kepenulisan saya.
Maka, tidak berlebihan jika saya bilang; Helvy Tiana Rosa itu cinta berjalan. Yang selalu menebarkan cinta pada semesta. Karena itu, saya pikir, tidak berlebihan jika Abdurahman Faiz mencintainya seperti syurga.* Ya, karena akupun mencintainya, juga seperti aku mencintai syurga.(adym)
Bima, 30 Maret 2008

*Sepenggal puisi Abdurahman Faiz.



imazahra wrote on Apr 16
Hiks hiks hiks... tulisannya memang bagusssssssssss..........
*aku sampai berderai airmata*

Pengalaman yg sangat-sangat personal, spt membaca chicken soup for the soul! Spt melahap kriuknya kripik singkong, lezat dan membuat kaya hati *sibuk ngapusin airmata*

Thanks for sharing ya akhi :-p
akhidirman wrote on Apr 17
aku aja nulisnya dengan 'hati' bgt lo mbak. gak mikirin menang malah. yang penting bisa 'memberikan' sesuatu untuk orang yang menginspirasiku. HTR itu inspirator bgt bagiku soalnya. kalau gak ketemu dia, apalah seorang dirman mbak...
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help